Rekam24Bogor.com, BOGOR – Jatuhnya pesawat ATR 42-500 yang membawa 10 penumpang di kawasan Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan (Sulsel), pada Sabtu (16/1/2026), menelan korban jiwa. Dari peristiwa tersebut, tiga di antaranya diketahui merupakan warga asal Bogor.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, ketiga korban asal Bogor tersebut masing-masing bernama Dwi Murdiono, pegawai PT Indonesia Air Transport (IAT) yang berdomisili di Kecamatan Tajur Halang, Kabupaten Bogor.
Selanjutnya, Esther Aprilita Sianipar yang bertugas sebagai pramugari dalam pesawat ATR 42-500. Korban diketahui tinggal di Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor.
Satu korban lainnya adalah Ferry Irawan, pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), warga Kelurahan Cikaret, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor.
Istri korban Dwi Murdiono, Sinta Jayanti, memastikan bahwa suaminya, Dwi Murdiono, merupakan salah satu penumpang pesawat ATR 42-500 yang dilaporkan jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan.
Dwi Murdiono diketahui bekerja sebagai engineer di PT Indonesia Air Transport (IAT) dan berdomisili di Jatuh Halang, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor. Keberangkatan korban merupakan perjalanan dinas rutin untuk keperluan patroli kelautan.
“Suami saya berangkat dari Jakarta ke Semarang, sempat transit sampai sore, lalu lanjut ke Yogyakarta dan menginap. Paginya sekitar jam delapan diminta berangkat lagi ke Makassar untuk patroli,” ujar Sinta dengan suara bergetar.
Menurut Sinta, jika seluruh agenda berjalan normal, suaminya biasanya menginap terlebih dahulu di Makassar sebelum kembali ke Yogyakarta dan akhirnya pulang ke Jakarta.
Komunikasi terakhir antara keduanya terjadi pada Sabtu pagi sekitar pukul 08.00 WIB, sesaat sebelum Dwi berangkat menjalankan tugas.
“Abi bilang, ‘Mih, Abi nanti jam delapan berangkat, kalau diundur ya.’ Saya jawab, ‘Iya, Bismillah, hati-hati,’” tutur Sinta. Sejak saat itu, tidak ada lagi kabar dari sang suami.
Padahal, lanjut Sinta, suaminya hampir selalu memberi kabar setelah mendarat atau setibanya di hotel. Namun hingga siang hari, pesan yang dinantikan tak kunjung datang.
Sekitar pukul 12.00 WIB, pihak kantor justru menghubungi Sinta karena nomor ponsel mereka sempat tertukar. Ia mengaku berusaha berpikir positif dan memilih beristirahat. Hingga akhirnya pada pukul 14.00 WIB, pihak kantor kembali menghubunginya dan meminta doa karena Dwi Murdiono dinyatakan lost contact.
“Biasanya kalau landing pasti ngabarin. Kalau pun sibuk, pasti nanti ngabarin pas sudah sampai Jakarta. Tapi ini sama sekali tidak ada kabar,” ungkapnya.
Sinta menjelaskan, suaminya memang kerap menjalani dinas terbang, namun dilakukan secara bergantian dengan rekan kerja lainnya. Kali ini, Dwi ditugaskan karena beberapa pegawai lain sedang libur.
Di tengah kecemasan dan ketidakpastian, Sinta menyampaikan harapannya agar suaminya segera ditemukan.
“Harapan saya cuma satu, semoga cepat ketemu dan orangnya selamat, tidak kurang satu apa pun. Dari kantor juga masih terus kasih info,” pungkasnya sambil menahan tangis.
Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian dan evakuasi terhadap pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung masih terus dilakukan oleh tim gabungan.










