Rekam24Bogor.com, Cibinong, Kabupaten Bogor – Rektor INDABI Soroti Arah Pembangunan Bogor: Infrastruktur Jalan, SDM dan Kesejahteraan Tertinggal
Arah pembangunan Kabupaten Bogor di bawah kepemimpinan Bupati Rudy Susmanto yang dinilai masih belum seimbang antara pembangunan fisik dan pembangunan sumber daya manusia (SDM).
Ramlan menilai, political will Bupati Bogor dalam menjalankan visi dan misi sesuai janji kampanye memang terlihat, terutama melalui berbagai proyek infrastruktur. Namun, pembangunan tersebut dinilai lebih berorientasi pada peninggalan legacy simbolik dibandingkan upaya peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat.
Pembangunan infrastruktur memang penting, tetapi indikator pembangunan manusia kita masih tertinggal. Angka rata-rata lama sekolah Kabupaten Bogor masih di bawah rata-rata provinsi, sementara tingkat kemiskinan masih cukup tinggi,” ujar Ramlan, Rabu (21/1/2026).
Ia mencontohkan sejumlah proyek pembangunan seperti pemolesan Tugu Pancakarsa, pembangunan tugu helikopter, hingga perubahan fungsi klinik rawat inap yang dinilainya belum menyentuh persoalan mendasar masyarakat.
Menurut Ramlan, tantangan terbesar Kabupaten Bogor saat ini adalah mendorong kesadaran pendidikan di tingkat akar rumput. Ia mengajak kalangan akademisi untuk turun langsung ke masyarakat dan menjadi mitra strategis pemerintah daerah.
Peran kampus sangat penting untuk mendorong masyarakat agar sadar sekolah. Pemerintah daerah tidak harus selalu membangun sekolah baru, karena sekolah swasta, baik umum maupun keagamaan, sudah banyak tumbuh di pelosok,” katanya.
Namun demikian, ia menegaskan pemerintah daerah perlu hadir untuk membantu dan memperkuat sekolah-sekolah swasta tersebut, termasuk madrasah ibtidaiyah dan tsanawiyah, agar kualitas pendidikan lebih merata.
Selain pendidikan, Ramlan juga menyoroti keterbatasan fasilitas kesehatan, khususnya di wilayah Parungpanjang. Hingga kini, wilayah tersebut belum memiliki rumah sakit, sehingga warga harus menempuh jarak jauh ke Leuwiliang, Cikaret, bahkan ke Tangerang untuk mendapatkan layanan kesehatan.
“Kalau ada warga sakit parah, itu sangat menyulitkan. Biaya transportasi besar, rumah sakit tujuan juga sering penuh,” ungkapnya.
Terkait kemiskinan, Ramlan menilai masih banyak masyarakat di wilayah pinggiran Kabupaten Bogor yang belum tersentuh secara langsung oleh program peningkatan kapasitas ekonomi. Ia menyoroti fakta bahwa banyak aktivitas usaha di wilayah Parungpanjang justru dikuasai oleh pendatang.
“UMKM harus melibatkan masyarakat lokal, supaya kesejahteraan mereka meningkat dan tidak hanya menjadi penonton di daerah sendiri,” tegasnya.
Ia menambahkan, meskipun program bantuan sosial dari pemerintah pusat dan daerah telah berjalan, namun diperlukan intervensi kebijakan yang lebih konkret dan menyentuh langsung agar masyarakat miskin benar-benar terangkat dan mandiri secara ekonomi.
“Pembangunan manusia harus digenjot dan dilakukan secara kolaboratif, melibatkan pemerintah daerah dan akademisi. Tanpa itu, pembangunan fisik akan kehilangan makna,” pungkas Ramlan.










